kain tenun

By wahyudihamdani062ip1

Februari 21, 2010

Category: kain tenun

Leave a Comment »

Kain Tenun Tradisional: Sakral dan Hampir Punah

Dulu, aku kurang begitu menghargai kain. Apalagi seninya. Benar kata orang, mungkin karena tak kenal maka aku tak begitu menghargainya.

Akhir-akhir ini, aku berinteraksi cukup lama dengan dunia kain tenun. Walau hanya sebatas interaksi literatur, namun ini cukup memberikan informasi yang bisa membuatku (cukup) mengenalnya. Dari sejarahnya, legendanya, caranya membuat, hingga fungsinya.

Sama seperti batik dan kain-kain tradisional lainnya, kain tenun dulunya merupakan kain yang sakral. Tak hanya sekedar memintal benang dan menenun, kain tenun tradisional dibuat dengan menggunakan ritual-ritual khusus. Puasa, contohnya.

Motif pun tidak semata-mata didapat dengan meniru pola. Tapi dulu, seorang penenun kadang membutuhkan waktu agak lama untuk mendapatkan ‘petunjuk’ motif yang sesuai. Tak heran motif-motif itu pun dipercaya memiliki kekuatan magis dan bernilai fungsi tinggi. Kebanyakan kain tenun tradisional dipercaya dapat menolak bala. Tapi ada pula yang dapat mendatangkan rezeki atau sekedar menjadi perlambang status seseorang.

Kepercayaan yang mendalam pada masyarakat masa itu membuat fungsi dari kain tenun tradisional ini tidak bisa sembarangan. Selain digunakan di upacara-upacara tertentu, kain tenun tradisional juga kerap dijadikan persembahan bagi dewa atau pemberian kepada kerabat. Seperti di Sumatera yang dulu menjadikan kain tenun sebagai salah satu ’seserahan’ saat menikah.

Belum lagi pewarnaan alaminya yang tak terlepas dari ritual-ritual dan ketelatenan tinggi. Bahkan untuk menciptakan satu warna saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Terlebih bila motif-motif itu memerlukan warna yang lebih banyak.

Kain tenun yang tersebar di seluruh Indonesia memang belum jelas diketahui asal-usulnya. Seperti dari mana atau siapa pembawanya. Diperkirakan seni menenun telah ada sejak masa prasejarah (neolitikum), jauh sebelum negara Indonesia terbentuk. Yang jelas, di Indonesia sendiri seni menenun telah banyak tampak dalam relief-relief candi, prasasti-prasasti bersejarah, ataupun legenda-legenda dan kisah rakyat populer.

Berkenalan lebih jauh tentang kain tenun tradisional, aku pun jadi tahu bahwa pembuatannya tidak sesederhana yang aku pikirkan. Para penenun harus memiliki ketelatenan, ketelitian, dan dedikasi yang tinggi untuk dapat menciptakan selembar kain yang indah. Dan hasilnya? Ada kain songket, lurik, hingga kain tenun ikat dan ikat ganda yang pembuatannya memiliki kerumitan tingkat tinggi.

Hm… sampai sekarang pun aku belum bisa percaya bagaimana seorang penenun bisa setelaten itu untuk menciptakan selembar kain tenun ikat ganda.

Tapi memang begitulah. Kain tenun ikat ganda Pagringsingan dari Bali, contohnya. Satu lembarnya membutuhkan waktu pengerjaan hingga bertahun-tahun. Mencapai sepuluh tahun, katanya. Hanya untuk menciptakan selembar kain tenun. Tentu saja harganya pun melambung hingga ratusan juta.

Pembuatannya yang membutuhkan waktu panjang dan rumit memang membuat kain tenun tradisional ditinggalkan. Terutama di masa di mana kepraktisan dan keinstanan kadang didewakan. Belum lagi kekakuan motif dan kuatnya fungsi tradisional. Ini memang menjadi dilema dan kekhawatiran tersendiri.

Terlepas dari harganya yang mungkin mahal, kain tenun tradisional memang harus kembali dimasyarakatkan. Tidak hanya sekedar komoditas cindera mata, namun juga menyentuh fashion sehari-hari. Ini salah satu cara agar kesenian menenun dan hasil-hasil indahnya dapat terhindar dari kepunahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: