bibit palapi

By wahyudihamdani062ip1

Februari 21, 2010

Category: bibit palapi

Leave a Comment »

Pohon Palapi (Heritiera spp.) dari famili Sterculiaeae, telah saya temukan di Kepulauan Togean ternyata merupakan pohon yang sangat langka sekarang. Pohon ini termasuk pohon intoleran, tetapi sangat cepat pertumbuhannya (fast growing). Di lahan bekas peladangan yang telah dipelihara selama 4 tahun ternyata pohon ini memiliki tinggi 18 m dan lingkaran pohon setinggi dada 120 cm (dia. 38,22 cm). Pohon tersebut merupakan jenis pohon lokal kepulauan yang tumbuh sangat baik di pulau tersebut. Masyarakat pulau dulunya memakai kayu tersebut sebagi galangan kapal dan juga dapat digunakan sebagai kayu kerajinan. Melihat potensi tersebut maka saya berusaha menyusuri kepulauan tersebut untuk mencari pohon Palapi yang terbesar guna dijadikan Indukan (Pohon Plus).

Di Desa Langger Kec. Togean Kepulauan, tepatnya diatas lereng gunung Banteng,  saya menemukan 3 pohon Palapi besar dengan diameter 1,5 s/d 2,8 meter. Setelah saya ukur kemudian membuat plot ukuran  2 x 2 meter dengan 4 kali ulangan dengan tempat yang berbeda-beda atau teracak  untuk menghitung penyebaran anakan (seedling) dibawah tegakan yang nantinya dapat digunakan sebagai bahan semai untuk penanaman. Rata-rata per plot  2 x 2 meter adalah 8o seedling. Dengan nilai tersebut maka saya asumsikan bahwa dengan mengambil anakannya saja kita dapat mengembangkan pohon Palapi tersebut untuk penghijauan kembali.

Di persemaian saya telah melakukan seleksi bibit untuk ditanam di demplot guna mencari tanaman unggul yang nantinya dapat digunakan sebagai kebun benih. Sehingga kedepannya kita tidak harus mengambil anakan alam tersebut.

Rencana kedepan adalah mengembangkan tanaman Palapi ini sebagai tanaman pokok di sela-sela tanaman kakau dan cengkeh (Agroforestry) yang telah ditaman pertama kali. Dengan metode ini maka Insya Alloh akan meningkatkan taraf hidup bagi masyarakat di kepulauan tersebut. Dan secara langsung akan meningkatkan APBD setempat.

Survei harga kayu Palapi per meter kubik adalah 1,8 juta pada tahun 2008 akhir. Jika masyarakat menanam pohon Palapi sejumlah 500 batang/ha dengan sistem tumpang sari dengan tanaman Kakau dan Cengkeh maka selama daur maksimal 10 tahun petani akan mengahasilkan Rp 1,8 jt x 300 btg (panen) = Rp 540.000.000,00 ( 1 phn = 1 m3 ). Dengan pendapatan = Rp 54.000.000,00 /th ; pendapatan perbulan = 4,5 juta/bl.

Sedangkan utk pendapatan harian dan bulanan masyarakat dapat memanen kakau dan cengkeh serta palawija ataupun mereka dapat mencari ikan dilaut (nelayan).

Saya kira konsep-konsep sederhana dalam pembangunan hutan dapat di capai jika kita saling terbuka dan berkumpul mencari penyebab masalah dan memecahkannya bersama-sama. Dalam hal ini proses pendampingan dan juga keikut sertaan pemerintah daerah harus juga berjalan, tetapi tidak hanya diliat bahwa masyarakat itu butuh tetapi juga menandi suatu kewajiban bagi pemerintah daerah untuk mendorong dan memotifasi warganya yang mempunyai keinginan baik dalam mewujudkan kearifan lokal dalam pembangunan hutan yang lebih lestari.

Intinya “jangan melihat masa lalu…” tetapi liat ke depan bahwa generasi kita yang akan datang agar dapat juga ikut merasakan “kesejukan hutan” (sebagai paru-paru dunia), sehingga anak cucu kita kelak masih bisa dapat bernapas dengan lega.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: