bibit jagung

By wahyudihamdani062ip1

Februari 21, 2010

Category: bibit jagung, bibit tanaman

Leave a Comment »

Ketahanan Pangan dan Ekspor Beras. Ketahanan Pangan = Puasa. Baru kemarin Saya berdiskusi dengan teman2 soal sistem ketahanan pangan Indonesia sebagai bentuk keprihatinan atas korban-korban gizi buruk dan kelaparan. Secara sosiologis, rakyat sudah memiliki suatu pola katakanlah sebuah sistem untuk bertahan (survive) dari krisis pangan. Dulu, masyrakat desa sudah biasa untuk membuat semacam “lumbung pangan” dimana setiap desa-desa memilikinya sebagai antisipasi kekurangan pangan dimusim kering sekaligus untuk menjaga sumber-sumber hayati seperti biji-bijian (yang biasa digunakan untuk benih/bibit musim tanam berikutnya). Kearipan lokal lainnya adalah adanya sumber-sumber pangan alternatif seperti garut, singkong, umbi-umbian, sagu, tiwul dll yang terbukti telah menyelamatkan perut yang kelaparan di saat musim pamceklik. Lahan pekarangan juga banyak ditanami oleh tanaman-tanaman yanng bisa dijadikan penambah gizi. Budaya agraris bangsa ini telah membentuk “kebiasaan populer” yang menjauhkan bangsa ini dari tragedi krisis pangan.

Namun belakangan “kebiasaan populer” tersebut makin hilang dan jarang terlihat. Bahkan Petani dan Nelayan lah yang paling banyak korbannya akibat ketidakmampuan untuk mengakses kebutuhan pangan, padahal mereka lebih dekat pada sumber2 pangan tersebut. Ironis memang, saat ini ketahanan pangan bagi rakyat artinya sama puasa. Maksud Saya, kamampuan sebagian besar rakyat untuk mendapatkan pangan makin melemah, entah hargan pangan yang terus melambung tinggi sehingga daya beli masyarakat menurun tau karena memang stok pangan di pasaran yang tidak ada?.

Industrialsiasi, alih fungsi lahan, pencabutan subsidi pertanian, stagnasi reforma agraria, dll barangkali menjadi penyebab melemahnya kemampuan kaum tan dan nelayan untuk memproduksi pangan. Disamping itu persoalan klasik tentang negara yang mengatur harga pangan dipasaran, jika harga pangan mahal maka kasihan meraka yang miskin, tatapi kalau murah tentu petani dan nelayan juga yang dirugikan. Persoalan ini harus menjadi perhatian bangsa ini.

Rencana Indonesia mengekspor beras cukup mengejutkan karana selama ini kita selalu menimpor beras dari Thailand. Beberapa tahun belakangan, kebijakan tidak populis yaitu mengimpor beras selalu menuai aksi demo dari petani karena merugikan petani, juga penuh kepentingan bisnis. Alasan untuk mengekspor beras karena produksinya surplus dan juga ada sisa/kelebihan produksi musim tanam lalu. Ini tentu menggemberikan, karena menurut pemerintah dengan kondisi surplus, cadangan pangan Indonesia mencukupi sehingga bisa di ekspor. Namun pemandangan sosial bertolak belakkang yang terjadi justru adanya krisis pangan dan gizi buruk. Smoga langkah pemerintah ini benar2 keputusan yang tepat dan buakan karena ditekan atau dipengaruhi oleh krisis pangan dunia sehingga jangan samapi rakyat sendiri yang menajdi korban.

Bangsa yang aneh tapi nyata, bangsa tempe yang tidak suka nanam kedelai (krisis kedelas di negri tempe), krisis beras di ladang padi, ….

Ah, jadi inget sekarang tempe goreng makin tipis aja dan harganya sudah 500 rupiah per potong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: